Sabtu, 23 Oktober 2010

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN PADA MANUSIA

Sumber:
Hanif Al Fatta dan Sutopo Wibowo
Dosen STMIK AMIKOM Yogyakarta

Pesan: setelah sobat membaca berilah komentar sebagai masukan pada penulis.

Pendahuluan
Penyakit telinga, hidung, tenggorokan merupakann penyakit yang banyak dijumpai di Indonesia. Bagi sebagian orang banyak yang tidak mengetahui gejala–gejala tenggorokan. Dengan mengunakan penyakit telinga, hidung, sistem pakar kita bisa mendiagnosa penyakit telinga, hidung, tenggorokan dengan melihat ciri–ciri yang dapat menjelaskan dan menggambarkan apakah seseorang terkena salah satu penyakit telinga, hidung, tenggorokan atau tidak Mengingat begitu banyak permasalahan mengenai penyakait telinga hidung dan tenggorokan maka penelitian hanya membatasi pada ruang lingkup.
1.       Penyakit yang di diagnosa hanya pada tenggorokan
2.       Cara akusisi pengetahuan dilakukan dengan pencarian sumber pengetahuan di internet dan buku yang disusun oleh seorang pakar.
3.       Metode resprensentasi pengetahuan yang dipilih production rule.
4.       Inferensi aturanya mengunakan pelacakan ke depan (forward chaining).
5.       Tidak membahas faktor kepastian (certain factor).

Pembahasan
1. Penyusunan Basis Pengetahuan
Sistem pakar untuk mendiagnosa penyakit telinga, hidung dan tenggorokan pada manusia ini membutuhkan pengetahuan dan mesin informasi untuk mendiagnosa penyakit yang dialami pengguna. Basis pengetahuan ini berisikan faktor-faktor yang dibutuhkan oleh sistem. Sedangkan mesin inferensi digunakan untuk menganalisa faktor-faktor yang dimasukan pengguna sehingga dapat ditemukan suatu kesimpulan basis pengetahuan yang diperlukan sistem terdiri dari gejala penyakit, jenis penyakit dan terapi. Data yang menjadi input sistem adalah data gejala yang dapat dari pemeriksaan yang dilakukan oleh para medis. Data tersebut digunakan oleh sistem untuk menentukan jenis penyakit yang diderita pasien. Pembentukan aturan gejala penyakit dari ini ditunjukan pada tabel 1.

Tabel 1. Aturan Gejala Penyakit


No
Aturan
1
If Sukar menelan And Sesak napas timbul bila sudah meluas sampai ke daerah hipofaring And Stidor inspirasi akan timbul bila anak dalam posisi tidur terlentang And. Pada pemeriksaan fisik tampak didinding belakang faring menonjol And Pada perabaan teraba lunak And Pada pemeriksaaan foto jaringan lunak leher AP lateral tampak banyak radiolusen di daerah prevertebra Or Rasa nyeri pada leher Then Abses retrofaring
2
If Pembengkakan di daerah sekitar angulus mandibula And Leher terasa panas And Pembengkakan dinding lateral faring kea rah medial And Sukar menelan akibat adanya pembengkakan di daerah faring Or Rasa nyer pada leher Then Abses parafgaring
3
If Demam tidak tinggi And Badan lemah And Tidak nafsu makan And Nyeri Kepala And Nyeri Tenggorokan And Kadang-kadang terdapat pembengkakan kelenjar leher And Suara parau And Stridor serta gejala sumbatan laring And Pada pemeriksaan tampak selaput keabuan mudah berdarah di tonsil Then Radang Difteri Faring.
4
If Demam tinggi sampai 39 derajat celcius And Batuk menggonggong And Stridor serta gejal sumbatan laring And Pada pemeriksaan faring tampak tonsil dan faring hipremis And Pada pemeriksaan laringoskopi langsung tampak laring ebema, hiperemis tidak berselaput Or Suara parau Then Laringtis akut 
( Radang non difteri )
5
If Stidor sejak lahir And Cekungan-cenkungan lebih jelas ketika menangis And Kadang-kadang sukar untuk menetek And Pada laringoskopi tampak pada waktu inspirasi epiglottis And aritenoid melekuk tampak kolaps And Keadaan umum anak lemah dah pucat Then Laringmalasia (kelain kongenial laring)

Basis aturan dalam permasalahan ini merupakan kumpulan kaidah-kaidah yang saling berhubungan satu sama lain. Kaidah-kaidah atau aturan –aturan ini direpresentasikan dalam penyakit bentuk persyaratan IF – Then. Pernyataan ini menghubungkan bagi premios (IF) dan bagian kesimpulan (Then). Apabila premis dalam aturan produksi dapat memilik lebih dari suatu proposisi, proposisi-proposisi tersebut dihubungkan dengan menggunakan operator logik AND .
Data-data yang menjadi output bagi sistem adalah data jenis penyakit menyediakan data terapi dan pencegahan. Aturan jenis penyakit menyediakan tentang jenis-jenis penyakit telinga,
hidung dan tenggorokan. Pembentukan aturan jenis penyakit tenggorokan ditunjukan pada tabel 2.

Tabel 2 Tabel Penyakit Tenggorokan

No
Penyakit
Deskripsi / Keterangan
1
Abses Retrofaring
Lebih sering ditemukan pada anak usia 3 bulan – 5 tahun, karena pada usia tersebut di daerah retrofaring terdapat 3-5 kelenjar limfa. Abses ini sering terjadi sebagai dari infeksi saluran napas bagian atas, trauma pada dinding faring (misalnya tertusuk duri, pada waktu adenoidektomi) sering juga    sebagai    komplikasi
tuberklosis   pada   vertebra servikalis atas.
2
Abses Parafgaring
Sering terjadi akibat tusukan jarum atau pada waktu melakukan tonsilektomi dengan analgesia local. Penyebaran secara hematogen dari infeksi tonsil, gigi, faring, hidung, sinus paranasal, mastoid dan vertebra servikal.
3
Radang Difteri Faring
Peradangan oleh kuman difteri di laring merupakan lanjutan ndari peradangan di tonsil dan faring. Sehingga diagnosis sebenarnya ialah : tonsilofaringtis difteri
4
Laringtis akut
( Radang non difteri)
Peradangan non difteri pada dewasa tidak merupakan keadaan yang gawat. Pada anak laringtis akut  dan  epiglotitis  dapat menyebabkan sumbatan laring akut,   yang   bila   tidak ditenggulangi dengan cepat akan menyebabkan kematian. Pada anak laringtis akan menyebabkan sumbatan laring, oleh Karena adanya edema laring.
5
Laringmalasia
(kelain kongenial laring)
Kelainan kongenital adalah kelainan yang didapat sejak lahir.

Rancangan sistem ini tidak hanya berhenti pada kemampuan mendiagnosa penyakit mengunakan aturan gejala. Penelusuran dapat dilanjutkan untuk menelusuri saran terapi. Apabila hasil dari melakukan sesi konsultasi berupa jenis penyakit tertentu ditunjukan dalam hal ini tentu saja jenis penyakit yang terdeteksi berkedudukan sebagai kesimpulan akhir. Sedangkan saran terapi berkedudukan sebagai faktor. Aturan terapi ditunjukan pada tabel 3
Tabel 3 Tabel aturan saran terapi
No
Terapi
1
If Abses Retrofaring Then Bila tidak ada tanda-tanda sumbatan jalan napas, dengan pertolongan laringoskop
dilakukan pungsi dan aspirasi yang dilanjutkan dengan inisi And Pus harus dihisap dengan baik supaya tidak
terjadi aspirasi And Posisi pasien pada waktu tindakan ialah baring secara trendelenburg. Tindakan ini dilakukan dalam analgesia dapat juga dilakukan semprotan Xylocain 2%, dapat juga dilakukan dalam narcosis umum And Bila ada tanda-tanda sumbatan jalan napas harus segera dilakukan trakeostomi sebelum melakukan pungsi And Antibiotic diberikan dalam disis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob And Bila penyebabnya tuberculosis harus diberikan juga obat anti tuiberkulosa.
2
If Abses Parafgaring Then Melakukan eksplorasi untuk mengeluarkan nanah secepat mungkin And Untuk
melakukan eksplorasi harus dalam narcosis umum, maka diperlukan trakeostomi sebelum melakukan eksplorasi And Eksplorasi dilakukan dengan cara membuat insist dapar diperluas secara tumpul And Insisi intra oral sering juga dilakukan, dengan cara memakai klem arteri panjang, ditusukan ke arah m.konstriktor faring, sehingga masuk keruang prestiloid And Juga diberikan antibiotika dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob.
3
If Radang Difteri Faring Then Tergantung pada stadium sumbatan laringnya dilakukan pemantauan ketat, intubasi, trakeostomi atau krikotirotomi yang ketat, intubasi, trakeostomi atau krikotomi yang dilanjutkan bengan trakeoostomi And ADS : 20 000 unit IM diberikan 2 hari berturut-turut And Antibiotika : Penisilin 4 dd 50 mg / kgberat badan / hari. Bila tidak tahan mka penisilin, dapat diberikan kloramfenikol dalam dosis yang sama.
4
If Laringtis akut ( Radang non difteri ) Then Di berikan antibiotika Kortikosteroid 1-2 mg/kg berat badan sehari, setelah itu dosis diturunkan perlahan-lahan. And Bila tidak terdapat sumbatan laring stadium 3, maka tidak dilakukan trakeostomi.
5
If Laringmalasia (kelain kongenial laring) Then Tidak diberikan terapi biasanya setelah berusia antara 2-5 tahun stridor menghilang And Bila terdapat gejala obstruksi laring hebat dilakukan intubasi dirawat uintuk memperbaiki gizi dan pengawasan ketat

2. Metode Inferensi
Dalam sistem ini metode inferensi yang digunakan adalah forward chaining karena proses yang dialami dengan menampilkan gejala penyakit. Forward chaining digunakan untuk menguji faktor-faktor yang dimasukan pengguna dengan aturan yang disimpan dalam sistem satu demi satu hingga dapat diambil satu kesimpulan forwad chaining.
Berikut ini diberikan contoh Graf Penelusuran Penyakit untuk 2 jenis penyakit:
1.       Abses Retrofaring
Graf penelusuran jenis penyakit abses retrofaring ditunjukan pada gambar 3.1 mempunyai tujuh gejala yang digunakan sebagai berikut

Gambar 1 Graf Abses Retrofaring

2.       Abses Parafgaring
Graf penelusuran jenis penyakit abses parafgaring ditunjukan pada gambar 3.2 mempunyai lima gejala yang digunakan sebagai berikut


Gambar 2 Graf Abses Parafgaring

Keterangan Gejala :
G1   : Sukar menelan
G2   : Sesak napas timbul bila sudah meluas sampai ke daerah hipofaring.
G3   : Stidor inspirasi akan timbul bila anak dalam posisi tidur terlentang
G4   : Pada pemeriksaan fisik tampak didnding belakang faring menonjol
G5   : Pada perabaan teraba lunak
G6   : Pada pemeriksaaan foto jaringan lunak leher AP lateraltampak banyak radiolusen di daerah prevertebra
G7   : Rasa nyeri pada leher
G8   : Pembengkakan di daerah sekitar angulus mandibula
G9   : Leher terasa panas
G10 : Pembengkakan dinding lateral faring kea rah medial
G11 : Sukar menelan akibat adanya pembengkakan di daerah faring


3.       Perancangan Sistem.
Data Flow Diagram (DFD) merupakan gambaran sistem secara logika. Gambaran ini tidak tergantung pada perangkat keras, perangkat lunak, stuktur data atau organisasi file. Data flow diagram menjelaskan terhadap user yang bagaimana fungsi-fungsi sistem informasi secara logika akan bekerja

1. Rancangan Data Flow Diagram.
a. Data Flow Diagram (DFD) Level 0






Pada gambar tersebut menerangkan bahwa system berinteraksi dengan dua sumber data atau tujuan data, yaitu pakar dan user. Tandah panah menunjukan masukan dan keluaran sistem. Seorang pakar atau pemrogram memasukan basis pengetahuan ke dalam sistem yang berupa gejala, penyakit dan solusi pengendalian serta basis aturan. Sedangkan user memasukkan gejala-gejala penyakit yang dideritanya. Sistem akan memberikan hasil analisis kepada user tersebut. Output yang dihasilkan atau hasil analisis dari system tersebut berupa rincian gejala yang diderita, nama penyakit dan solusi penggobatanya.

b. Data Flow Diagram (DFD) Level 1
Data flow diagram level 1 merupakan turunan dari data flow diagram level 0 yang mengambarkan aliran data dan detail proses-proses yang akan di integrasikan ke dalam sistem seperti dilanjutkan pada gambar 3.7

Gambar 4 Data Flow Diagram ( DFD ) Level 1

2. Entity Relation Diagram (ERD)
Gambar 5 Entity Relation Diagram ( ERD )


Pengetesan Sistem
1. Pengetesan Black Box
“Pengujian black box berfokus pada persyaratan fungsional perangkat lunak, dengan demikian pengujian memungkinkan perekayasa perangkat lunak mendapatkan serangkaian kondisi input yang sepenuhnya menggunakan semua persyaratan fungsional untuk suatu program” (Roger S.Pressman, Phd. 2002. Rekayasa Perangkat Lunak., Penerbit Andi, hal 533. Yogyakarta).
Pada pengujian ini hanya diambil sebuah contoh fungsi untuk mewakili dari fungsi-fungsi yang ada, yaitu fungsi input data, edit data, hapus data, pada data penyakit.
a. Fungsi Mengimputkan Data
Untuk menginputkan data maka terlebih dahulu kita masuk ke halaman administrator dan masuk ke menu yang kita tuju. Sebagai contoh, penulis memilih menu penyakit sebagai uji coba.
Gambar 6. Cara Mengimputkan Data

b. Fungsi Mengubah Data
Untuk mengubah data, langkah-langkahnya hampir serupa dengan fungsi menginputkan data, hanya saja seorang admin cukup meng-klik menu “Edit” yang berada di sisi kanan data yang bersangkutan.

Gambar 7 Edit Data

Setelah meng-klik menu edit, maka akan muncul form edit data yang telah berisi data yang bersangkutan seperti gambar
Gambar 8 Tampilan Edit Data
c. Fungsi Hapus Data
Untuk menguji fungsi menghapus data, penulis mengambil sampel data yang sama untuk memudahkan pengujian, perhatikan gambar berikut.


Gambar 9 Sebelum Dihapus
Setelah mengklik icon “X” maka data akan terhapus dan data akan terlihas sebai berikut setelah data P001 dihapus.
Gambar 10 Sesudah Dihapus


Penutup
Dari uraian bab-bab sebelumya,dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Bahwa Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Telinga, Hidung Dan Tenggorokan ini telah mampu:
1.             Memberikan informasi kepada pemakai mengenai jenis penyakit yang dideritanya (diagnosa awal) berdasarkangejala-gejala yang diberikan.
2.             Memberikan  informasi tentang terapi yang bisa menyembuhkan.
3.             Data yang terdapat pada program aplikasi dapat di update atau di tambah jika ditemukan data yang baru.

Daftar Pustaka

Castagnetto Jesus dkk, 1999, Professional PHP Programming, Wrox Press Ltd, USA.
Efraim Turban, Jay E.Aronson, Ting Peng Liang, 2005, Decision Support Systems and Intelligent System (Sistem Pendudukung Keputusan dan Sistem Cerdas), Edisi 7, Jilid 2, C.V Adi Offset (Andi), Yogyakarta.
Fathansyah, 1999, Basis Data, Edisi Pertama, CV. Informatika Bandung
Jogiyanto, H., 1993, Analisis dan Desain Sistem Informasi, Andi Offset, Yogyakarta.
Kusrini, S.Kom, 2006, Sistem Pakar Teori dan Aplikasi, Andi Offset, Yogyakarta.

Muhammad Arhami, 2005, Konsep dasar sistem pakar, Andi, Yogyakarta.
Pew, John A., Instan Java Edisi Bahasa Indonesia, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Prof. Dr. Hj. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT , Dr. Helmi, Sp.THT, Mars, 2004, Panduan Penatalaksanaan Gawat Darurat Telinga Hidung Tenggorok, Balai Penerbit FKUI Jakarta.
Purbo, W.O., 2000, Membangun Web E-Commerce, elex media komputindo.
Roger S. Pressman, Phd. 2002. Rekayasa Perangkat Lunak. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Sandi Setiawan, 1993, Artificial Intelligence, Andi Offset, Yogyakarta.
Sutanta, E ., 1996, Sistem Basis Data : Konsep dan Perancangan Dalam Sistem Informasi Manajemen, Edisi I, Andi Offset, Yogyakarta.
Wijela, R.M, 2000, Internet dan Intrnet, Dinastindo, Yogyakarta. www.medicastore.com


Pesan: setelah sobat membaca berilah komentar sebagai masukan pada penulis.

1 komentar:

  1. Bagus, sudah memiliki struktur penjelasan sistem pakar...

    penjelasannya dapat diperbaiki dengan menggunakan bahasa kalian dan lebih santai, jangan pakai atau kopi seluruh penjelasan yang ada di literatur...

    Semua gambar tidak terlihat, mungkin ada masalah dengan proses posting...

    TERUS LANJUTKAN dengan POSTING-POSTING LAIN... dan SEMANGAT

    Salam dari Jepang,

    Seno Panjaitan

    BalasHapus